JAYAPURA, iNewsJayapura.id - Negara akhirnya bergerak. Kepolisian Republik Indonesia melalui Polsek Kawasan Bandara Polres Jayapura mengamankan ketat kedatangan sembilan tenaga pendidik dan tenaga medis yang dievakuasi darurat dari Koroway, Kabupaten Boven Digoel, menyusul aksi brutal penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menewaskan pilot dan kopilot sehari sebelumnya.
Pesawat misi kemanusiaan MAF jenis Codiak PK-MEF yang dipiloti Capt. Thomas Allen Bolser mendarat di Bandara Sentani, Jayapura, Kamis (12/2/2026) pukul 15.29 WIT. Satu per satu para guru dan perawat turun dengan wajah letih, trauma, namun lega selamat dari ancaman nyata yang mengintai nyawa mereka di pedalaman.
Rombongan disambut Koordinator Wilayah Papua Sekolah Lentera Harapan Fred Samuel Koirewoa dan Kepala Sekolah SD Lentera Harapan Distrik Danowage Harun Djouwni. Di bawah pengawalan polisi, mereka langsung diarahkan ke ruang rapat Kantor PT MAF untuk pemulihan fisik dan psikologis sebelum dipindahkan ke penginapan di kawasan Jalan Pasir Sentani.
Sembilan orang yang dievakuasi terdiri dari enam guru yakni Aan Suek, Risa, Ema, Monik, Yonar, dan Nonik serta tiga tenaga medis: Suster Grace, Rifal, dan Anton. Evakuasi ini bukan pilihan, melainkan keharusan demi keselamatan jiwa setelah situasi keamanan di Koroway memburuk drastis.
Bupati Boven Digoel, Roni Omba, menyebut penembakan tersebut sebagai kejadian paling menonjol dan pertama dalam sejarah daerahnya. “Ini duka mendalam bagi kami. Dampaknya bukan hanya korban jiwa, tetapi rasa aman masyarakat,” tegasnya. Ia meminta tokoh agama dan tokoh masyarakat tidak membiarkan hoaks memperkeruh suasana, serta membantu menenangkan warga.
Pemerintah daerah memastikan langkah evakuasi lanjutan di Bandara Koroway Batu telah disiapkan bersama TNI - Polri. “Aparat keamanan bekerja maksimal agar semua proses aman, tertib, dan terkoordinasi,” tambah Bupati.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Cahyo Sukarnito, menegaskan komitmen negara. “Polri hadir untuk melindungi guru dan tenaga medis yang mengabdi di pedalaman. Evakuasi ini adalah prioritas kemanusiaan,” ujarnya. Koordinasi lintas satuan terus diperketat guna memulihkan rasa aman warga yang terdampak langsung gangguan kamtibmas.
Insiden ini kembali menampar nurani publik pengabdian di pedalaman Papua masih dibayar mahal dengan nyawa dan trauma. Negara dituntut bukan hanya cepat bereaksi, tetapi memastikan keamanan berkelanjutan agar pendidikan dan layanan kesehatan tidak lagi berjalan di bawah bayang-bayang senjata.
Editor : Darul Muttaqin
Artikel Terkait
