LPI Ajak Industri Film Indonesia Lebih Menghargai Subjek Karya

Tim iNews Jayapura
Industri kreatif tanah air saat ini tengah menjadi perhatian terkait pentingnya nilai etika dalam sebuah proses produksi film.Foto: ist

JAKARTA, iNewsJayapura.id - Industri kreatif tanah air saat ini tengah menjadi perhatian terkait pentingnya nilai etika dalam sebuah proses produksi film.

Lingkar Pemuda Indonesia atau LPI menyampaikan harapan agar pihak terkait meninjau kembali peredaran film "Pesta Babi."

Hal ini bermula dari keresahan yang dirasakan oleh seorang tokoh adat Papua, Ibu Yasinta Moiwend, yang merasa bahwa keterlibatannya dalam karya tersebut belum didasari oleh kesepakatan yang jelas dan terbuka.

Direktur Eksekutif LPI, Akhrom Saleh, menuturkan bahwa situasi ini menjadi momentum berharga untuk merefleksikan kembali cara industri seni menghargai keberadaan masyarakat adat. Ia menyayangkan munculnya wajah Ibu Yasinta di materi promosi film tanpa adanya komunikasi hukum yang transparan.

Menurut pandangannya, keindahan sebuah karya seni akan semakin bermakna jika dibangun di atas landasan saling menghormati dan kejujuran, sehingga hak-hak pribadi maupun nilai budaya tetap terjaga dengan baik.

Pihak LPI juga mengamati adanya ketidakseimbangan dalam proses distribusi yang dikhawatirkan mengesampingkan kenyamanan subjek film demi kepentingan visual semata.

Akhrom berharap ada langkah nyata dari pihak produser untuk memberikan kejelasan dan rasa tanggung jawab, termasuk memperhatikan aspek emosional yang dialami oleh Ibu Yasinta.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap hak masyarakat adat Malind, saran untuk menunda penayangan di berbagai platform pun muncul sebagai jalan tengah sementara.

Persoalan ini mulai mengemuka saat Ibu Yasinta Moiwend membagikan perasaan sedihnya karena merasa kehadirannya hanya dimaknai sebagai kebutuhan promosi. Meski telah mendedikasikan banyak waktu untuk proses produksi, beliau mengaku belum mendapatkan penjelasan utuh mengenai peran sentralnya dalam film tersebut. Ibu Yasinta berharap agar jati dirinya dipandang sebagai identitas yang mulia, bukan sekadar komoditas.

Melalui perhatian pada kasus ini, LPI mengajak para sineas untuk senantiasa mengedepankan komunikasi yang hangat dan transparan, demi menciptakan karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memberikan manfaat dan kehormatan bagi narasumber yang terlibat.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network