JAKARTA, iNewsJayapura.id — Ketua Adat Wanam, Yohanis Agabi Mahuze, mengajak seluruh masyarakat adat untuk memegang teguh dan melestarikan nilai-nilai adat Malind Maklew sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas serta kekayaan budaya bersama.
Yohanis menekankan bahwa adat tidak boleh sekadar dipahami sebagai wawasan sejarah yang diwariskan antar-generasi. Lebih jauh, nilai-nilai adat harus dihormati, dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, serta dijaga keberlangsungannya agar tidak tergerus zaman.
"Adat adalah kekayaan kita bersama. Karena itu, adat bukan hanya untuk diketahui, tetapi harus dijaga, dihormati, dijalankan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya," ujar Yohanis dalam diskusi kelompok terpumpun bertajuk 'Sejarah Kampung dan Penelusuran Pohon Silsilah Marga Sub-Suku Malind Maklew Wanam' yang digelar Merah Pusaka Strategik Indonesia (MPSI) di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Ia menambahkan, pemahaman mendalam mengenai sejarah dan asal-usul marga menjadi kunci utama dalam memperkuat tali persaudaraan serta menjaga jati diri warga Wanam. Pengetahuan terkait hubungan kekerabatan dinilai penting agar masyarakat senantiasa mengingat akar kebudayaannya.
"Kalau kita memahami sejarah, asal-usul marga, dan hubungan kekerabatan, kita akan lebih mengenal siapa diri kita dan bagaimana hubungan kita sebagai satu keluarga besar masyarakat adat," tuturnya.
Dalam forum tersebut, Yohanis turut merilis susunan Pengurus Inti Adat Mayo Bodol periode 2026–2031 yang telah ditetapkan pada 1 September 2026 lalu di Kampung Wanam.
Struktur kepengurusan inti tersebut mengamanahkan posisi Ketua Adat kepada Yohanis Agabi Mahuze, didampingi Marianus Magaepe Moiwen sebagai Wakil Ketua Adat. Sementara posisi Sekretaris dijabat oleh Jalentinus Gewa Moiwen, dan Heribertus Mbilike Moiwen dipercaya mengemban tugas sebagai Bendahara.
Pembentukan kepengurusan baru ini menjadi langkah strategis untuk memperkokoh kelembagaan adat di Kampung Wanam sekaligus memperjelas pembagian fungsi dalam tata kelola adat. Pengurus terlantik bertugas mengawal proses musyawarah, mendokumentasikan sejarah lokal, hingga memfasilitasi penyelesaian berbagai persoalan adat masyarakat setempat.
Melalui kelembagaan yang makin solid, Yohanis optimistis warisan leluhur masyarakat Malind Maklew akan terus hidup dan membentengi generasi muda dari pengikisan budaya.
"Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga adat ini agar tetap hidup. Bukan hanya untuk generasi kita sekarang, tetapi juga untuk anak dan cucu kita di masa yang akan datang," pungkasnya.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
