Riset Baru: Intervensi Padat Nutrisi Terbukti Efektif Tekan Stunting dan Malnutrisi Anak
Hasil penelitian terbaru berjudul "A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy" telah dipresentasikan oleh Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG), Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, pada ajang International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.
"Penelitian ini mengevaluasi dampak kesehatan dan ekonomi dari pemberian PKMK atau NDF kepada anak-anak Indonesia yang mengalami masalah gizi. Hasil analisis menunjukkan bahwa intervensi nutrisi tersebut berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 34,5%, wasting sebesar 72,7%, dan underweight sebesar 51,7%. Jika diterapkan secara luas, dampaknya diperkirakan dapat mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight pada anak Indonesia," jelas Muh. Akbar Bahar, Jumat (5/6/2026).
Tidak hanya memperbaiki status gizi, penelitian ini juga menunjukkan bahwa perbaikan nutrisi berpotensi menurunkan berbagai penyakit infeksi yang sering dialami anak dengan gizi kurang. Model yang dikembangkan memperkirakan penurunan kasus tuberkulosis (TB) sebesar 47,2% dan pneumonia sebesar 44,7%, setara dengan pencegahan sekitar 1,2 juta kasus TB dan 1 juta kasus pneumonia. Selain itu, kasus ISPA dan diare diperkirakan dapat berkurang masing-masing hingga 2,6 juta dan 2 juta kasus pada skenario utama penelitian.
Menurut Muh. Akbar Bahar, temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan nutrisi tidak seharusnya dipandang semata sebagai program bantuan pangan.
“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaat yang dihasilkan jauh melampaui peningkatan berat badan atau tinggi badan. Risiko infeksi menurun, kebutuhan berobat berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik. Karena itu, intervensi nutrisi perlu dipandang sebagai investasi kesehatan masyarakat yang menghasilkan manfaat kesehatan dan ekonomi secara bersamaan,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, penelitian ini memperkirakan bahwa berkurangnya kasus penyakit dapat menghasilkan penghematan biaya pengobatan hingga Rp2,46 triliun untuk tuberkulosis (TB), Rp3,88 triliun untuk pneumonia, Rp2,40 triliun untuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan Rp3,38 triliun untuk diare.
Editor : Darul Muttaqin